Warga Nahdliyin


Sebagai motivasi, PP Lakpesdam NU telah menyampaikan beberapa ciri atau indikator kepengurusan NU di tingkat ranting atau tingkat kecamatan (MWCNU) dapat dinilai sehat atau aktif. Pertama, pengurus ranting telah terlibat atau bahkan menggerakkan berbagai aktivitas atau tradisi keagamaan di desa atau kelurahan setempat. “Jadi indikator pertama PRNU aktif adalah jika amaliyah NU berjalan,” kata Yahya Ma’shum. Kedua, pengurus ranting NU telah meningkatkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Para pengurus juga bisa menghimpung dana dalam bentuk zakat dan infaq dari masyakrat yang dikembalikan untuk keperlan masyarakat setempat. Dalam hal ini peran lembaga di tingkat kabupaten hanya menjadi partner yang menfasilitasi berbagai program di tingkat ranting aau kecamatan. “Selanjutnya, bagaimana ranting sehat itu dicirikan dengan terjadinya proses kaderisasi secara sederhana melalui berbagai even atau kegiatan. Di dengan melibatkan warga arau anak-anak muda untuk menjadi panitia kegiatan itu sudah merupakan kaderisasi,” kata Yahya. Indikator selanjutnya, PRNU dinilai aktif apabila pengurus telah telibat dalam kegiatan peningkatkan taraf perekonomian warga yang disesuaikan dengan kondsi dan kebutuhan warga setempat. Warga juga harus dikenalkan dengan politik anggaran. “Sekarang desa menjadi pusat perhatian dan alokasi anggaran untuk desa juga cukup besar,” katanya. Di bidang pendidikan, pengurus NU di tingkat ranting dinilai aktif jika bisa membangun atau menggerakkan pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran, atau lembaga pendidikan lain dengan taraf lebih tinggi sesuai kapasistas ranting setempat. “Yang juga perlu diperhatikan diperhatikan oleh ranting adalah syarat adminitrasi dan managemen keorganisasian. Lalu, kantor atau pusat kegiatan NU minimal ditandai dengan papan nama,” kata Yahya. “Jadi buat apa NU berkibar di tingkat cabang, kalau di MWC dan ranting tidak,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/indikator-pengurus-ranting-nu-tergolong-ldquoaktifrdquo-menurut-lakpesdam-eWgfi
Warga Nahdliyin adalah sebutan bagi warga atau masyarakat yang berfaham ke NU an dan mengamalkan apa yang menjadi amaliyah dari organisasi masyarakat yaitu Nahdlotul Ulama. Warga Nahdliyin menggunakan prinsip utama NU yaitu Islam ahlussunnah wal jamaah.
beberapa ciri atau indikator kepengurusan NU di tingkat ranting atau tingkat kecamatan (MWCNU) dapat dinilai sehat atau aktif. Pertama, pengurus ranting telah terlibat atau bahkan menggerakkan berbagai aktivitas atau tradisi keagamaan di desa atau kelurahan setempat. “Jadi indikator pertama PRNU aktif adalah jika amaliyah NU berjalan,” kata Yahya Ma’shum. Kedua, pengurus ranting NU telah meningkatkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Para pengurus juga bisa menghimpung dana dalam bentuk zakat dan infaq dari masyakrat yang dikembalikan untuk keperlan masyarakat setempat. Dalam hal ini peran lembaga di tingkat kabupaten hanya menjadi partner yang menfasilitasi berbagai program di tingkat ranting aau kecamatan. “Selanjutnya, bagaimana ranting sehat itu dicirikan dengan terjadinya proses kaderisasi secara sederhana melalui berbagai even atau kegiatan. Di dengan melibatkan warga arau anak-anak muda untuk menjadi panitia kegiatan itu sudah merupakan kaderisasi,” kata Yahya. Indikator selanjutnya, PRNU dinilai aktif apabila pengurus telah telibat dalam kegiatan peningkatkan taraf perekonomian warga yang disesuaikan dengan kondsi dan kebutuhan warga setempat. Warga juga harus dikenalkan dengan politik anggaran. “Sekarang desa menjadi pusat perhatian dan alokasi anggaran untuk desa juga cukup besar,” katanya. Di bidang pendidikan, pengurus NU di tingkat ranting dinilai aktif jika bisa membangun atau menggerakkan pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran, atau lembaga pendidikan lain dengan taraf lebih tinggi sesuai kapasistas ranting setempat. “Yang juga perlu diperhatikan diperhatikan oleh ranting adalah syarat adminitrasi dan managemen keorganisasian. Lalu, kantor atau pusat kegiatan NU minimal ditandai dengan papan nama,” kata Yahya.

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/indikator-pengurus-ranting-nu-tergolong-ldquoaktifrdquo-menurut-lakpesdam-eWgfi

 

beberapa ciri atau indikator kepengurusan NU di tingkat ranting atau tingkat kecamatan (MWCNU) dapat dinilai sehat atau aktif. Pertama, pengurus ranting telah terlibat atau bahkan menggerakkan berbagai aktivitas atau tradisi keagamaan di desa atau kelurahan setempat. “Jadi indikator pertama PRNU aktif adalah jika amaliyah NU berjalan,” kata Yahya Ma’shum. Kedua, pengurus ranting NU telah meningkatkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Para pengurus juga bisa menghimpung dana dalam bentuk zakat dan infaq dari masyakrat yang dikembalikan untuk keperlan masyarakat setempat. Dalam hal ini peran lembaga di tingkat kabupaten hanya menjadi partner yang menfasilitasi berbagai program di tingkat ranting aau kecamatan. “Selanjutnya, bagaimana ranting sehat itu dicirikan dengan terjadinya proses kaderisasi secara sederhana melalui berbagai even atau kegiatan. Di dengan melibatkan warga arau anak-anak muda untuk menjadi panitia kegiatan itu sudah merupakan kaderisasi,” kata Yahya. Indikator selanjutnya, PRNU dinilai aktif apabila pengurus telah telibat dalam kegiatan peningkatkan taraf perekonomian warga yang disesuaikan dengan kondsi dan kebutuhan warga setempat. Warga juga harus dikenalkan dengan politik anggaran. “Sekarang desa menjadi pusat perhatian dan alokasi anggaran untuk desa juga cukup besar,” katanya. Di bidang pendidikan, pengurus NU di tingkat ranting dinilai aktif jika bisa membangun atau menggerakkan pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran, atau lembaga pendidikan lain dengan taraf lebih tinggi sesuai kapasistas ranting setempat. “Yang juga perlu diperhatikan diperhatikan oleh ranting adalah syarat adminitrasi dan managemen keorganisasian. Lalu, kantor atau pusat kegiatan NU minimal ditandai dengan papan nama,” kata Yahya.

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/indikator-pengurus-ranting-nu-tergolong-ldquoaktifrdquo-menurut-lakpesdam-eWgfi
Sebagai motivasi, PP Lakpesdam NU telah menyampaikan beberapa ciri atau indikator kepengurusan NU di tingkat ranting atau tingkat kecamatan (MWCNU) dapat dinilai sehat atau aktif. Pertama, pengurus ranting telah terlibat atau bahkan menggerakkan berbagai aktivitas atau tradisi keagamaan di desa atau kelurahan setempat. “Jadi indikator pertama PRNU aktif adalah jika amaliyah NU berjalan,” kata Yahya Ma’shum. Kedua, pengurus ranting NU telah meningkatkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Para pengurus juga bisa menghimpung dana dalam bentuk zakat dan infaq dari masyakrat yang dikembalikan untuk keperlan masyarakat setempat. Dalam hal ini peran lembaga di tingkat kabupaten hanya menjadi partner yang menfasilitasi berbagai program di tingkat ranting aau kecamatan. “Selanjutnya, bagaimana ranting sehat itu dicirikan dengan terjadinya proses kaderisasi secara sederhana melalui berbagai even atau kegiatan. Di dengan melibatkan warga arau anak-anak muda untuk menjadi panitia kegiatan itu sudah merupakan kaderisasi,” kata Yahya. Indikator selanjutnya, PRNU dinilai aktif apabila pengurus telah telibat dalam kegiatan peningkatkan taraf perekonomian warga yang disesuaikan dengan kondsi dan kebutuhan warga setempat. Warga juga harus dikenalkan dengan politik anggaran. “Sekarang desa menjadi pusat perhatian dan alokasi anggaran untuk desa juga cukup besar,” katanya. Di bidang pendidikan, pengurus NU di tingkat ranting dinilai aktif jika bisa membangun atau menggerakkan pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran, atau lembaga pendidikan lain dengan taraf lebih tinggi sesuai kapasistas ranting setempat. “Yang juga perlu diperhatikan diperhatikan oleh ranting adalah syarat adminitrasi dan managemen keorganisasian. Lalu, kantor atau pusat kegiatan NU minimal ditandai dengan papan nama,” kata Yahya. “Jadi buat apa NU berkibar di tingkat cabang, kalau di MWC dan ranting tidak,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/indikator-pengurus-ranting-nu-tergolong-ldquoaktifrdquo-menurut-lakpesdam-eWgfi

 

Sebagai motivasi, PP Lakpesdam NU telah menyampaikan beberapa ciri atau indikator kepengurusan NU di tingkat ranting atau tingkat kecamatan (MWCNU) dapat dinilai sehat atau aktif. Pertama, pengurus ranting telah terlibat atau bahkan menggerakkan berbagai aktivitas atau tradisi keagamaan di desa atau kelurahan setempat. “Jadi indikator pertama PRNU aktif adalah jika amaliyah NU berjalan,” kata Yahya Ma’shum. Kedua, pengurus ranting NU telah meningkatkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Para pengurus juga bisa menghimpung dana dalam bentuk zakat dan infaq dari masyakrat yang dikembalikan untuk keperlan masyarakat setempat. Dalam hal ini peran lembaga di tingkat kabupaten hanya menjadi partner yang menfasilitasi berbagai program di tingkat ranting aau kecamatan. “Selanjutnya, bagaimana ranting sehat itu dicirikan dengan terjadinya proses kaderisasi secara sederhana melalui berbagai even atau kegiatan. Di dengan melibatkan warga arau anak-anak muda untuk menjadi panitia kegiatan itu sudah merupakan kaderisasi,” kata Yahya. Indikator selanjutnya, PRNU dinilai aktif apabila pengurus telah telibat dalam kegiatan peningkatkan taraf perekonomian warga yang disesuaikan dengan kondsi dan kebutuhan warga setempat. Warga juga harus dikenalkan dengan politik anggaran. “Sekarang desa menjadi pusat perhatian dan alokasi anggaran untuk desa juga cukup besar,” katanya. Di bidang pendidikan, pengurus NU di tingkat ranting dinilai aktif jika bisa membangun atau menggerakkan pendidikan yang ada, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Quran, atau lembaga pendidikan lain dengan taraf lebih tinggi sesuai kapasistas ranting setempat. “Yang juga perlu diperhatikan diperhatikan oleh ranting adalah syarat adminitrasi dan managemen keorganisasian. Lalu, kantor atau pusat kegiatan NU minimal ditandai dengan papan nama,” kata Yahya. “Jadi buat apa NU berkibar di tingkat cabang, kalau di MWC dan ranting tidak,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/indikator-pengurus-ranting-nu-tergolong-ldquoaktifrdquo-menurut-lakpesdam-eWgfi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Aswaja

Dua Kepentingan

Aswaja