Pesan K.H. Hasyim Ashari

11 Pesan Mbah Hasyim Asy'ari untuk Santri: Gunakan Masa Muda dan Berusahalah Membeli Buku

Pesan Hadrotus Syeikh K.H. Muhammad Hasyim Ashari

Mbah Hasyim memang telah tiada. Namun, jasanya akan selalu dikenang sepanjang masa. Nasihat-nasihat yang penuh maknanya juga akan selalu diingat oleh warga NU dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Barangsiapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khatimah beserta anak-cucunya.
  2. Masuklah (NU) dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan ikatan jiwa raga.
  3. Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja.
  4. Bahwasanya Al-Qur’an dan Alhadist adalah pedoman dan rujukan bagi muslimin, hal itu benar adanya. Namun memahami Al-Qur’an dan Alhadist tanpa mempertimbangkan pendapat para Ulama adalah sulit, atau bahkan tidak bisa.
  5. Dakwah dengan cara memusuhi ibarat orang membangun kota, tetapi merobohkan istananya.
  6. Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.
  7. Tak ada satu pun di dunia ini yang kekal. Maka, ukirlah cerita indah sebagai kenangan. Karena dunia memang sebuah cerita.
  8. Mengagungkan atau menghormati masjid hukumnya wajib, sedangkan meremehkan atau meng hinanya adalah haram.
  9. Hendaknya segera mempergunakan masa muda dan umurnya untuk memperoleh ilmu, tanpa terpedaya oleh rayuan “menunda-nunda” dan “berangan-angan panjang”, sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan.
  10. Seorang santri hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang dapat mengotorinya seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat dan perangai yang buruk.
  11. Menerima sandang pangan apa adanya sebab kesabaran akan ke-serba kekurangan hidup, akan mendatangkan ilmu yang luas, kefokusan hati dari angan-angan yang bermacam-macam dan hikmah hikmah yang terpancar dari sumbernya.
  12. Pandai membagi waktu dan memanfaatkan sisa umur yang paling berharga itu.
  13. Makan dan minum sedikit. Kenyang hanya akan mencegah ibadah dan bikin badan berat untuk belajar.
  14. Bersikap wara’ (mejauhi perkara yang syubhat ‘tidak jelas ‘ halal haramnya) dan berhati-hati dalam segala hal.
  15. Meninggalkan pergaulan karena hal itu merupakan hal terpenting yang seyogyanya dilakukan pencari ilmu, terutama pergaulan dengan lain jenis dan ketika pergaulan lebih banyak-main-mainnya dan tidak mendewasakan pikiran.
  16. Hendaknya memiliki niat yang baik dalam mencari ilmu, yaitu dengan bermaksud mendapatkan ridho Allah, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariah Islam, menerangi hati dan mengindah kannya dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai berniat hanya ingin mendapatkan kepentingan duniawi seperti mendapatkan kepemimpinan, pangkat, dan harta atau menyombong kan diri di hadapan orang atau bahkan agar orang lain hormat.
  17. Sesungguhnya perpecahan, pertikaian, saling menghina dan fanatik madzhab adalah musibah yang nyata dan kerugian yang besar.
  18. Tatkala umurku habis tanpa karya dan pengetahuan (ilmu), lantas apa makna umurku ini?.
  19. Janganlah hal-hal sepele menyebabkan kalian bercerai-berai, bertengkar. dan bermusuhan.
  20. Watak manusia itu seperti pencuri ulung (meniru perilaku orang lain dengan cepat) dan efek pergaulan adalah ketersia-siaan umur tanpa guna dan hilang agama bila bergaul dengan orang yang bukan ahli agama. Jika seorang pelajar butuh orang lain yang bisa dia temani, maka hendaknya dia jadi teman yang baik, kuat agamanya, bertaqwa, wara ‘, bersih hatinya, banyak kebaikannya, baik harga dirinya (muru'ah), dan tidak banyak bersengketa: bila teman tersebut lupa dia ingatkan dan bila sudah sadar maka dia tolong.
  21. Berusahalah membeli buku, jika tidak memungkinkan, menyewa atau meminjamlah. Sebab itulah cara memperoleh ilmu pengetahuan.
  22. Sesungguhnya kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan, sementara kebathilan kadang menjadi kuat karena persatuan dan kekompakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Aswaja

Dua Kepentingan

Aswaja